07 Mei 2014

Potret Keluarga

Memandangnya, ada perih yang terselip di hati, ada debar yang tak biasa yang semakin lama semakin kencang, ada amarah yang tak sanggup padam. Ibu memandangnya dengan wajah yang teduh, potret keluarga kami di ruang tengah.

Potret ini adalah barang terakhir peninggalan Ayah. Tiga tahun lalu semua barang Ayah aku singkirkan, pakaian, tanaman yang Ia rawat, sikat gigi, shampo, asbak, gelas, semua, semua yang mengingatkanku pada Ayah sudah aku buang. Kecuali potret kami yang besar di ruang tengah. Bagiku, potret itu adalah cela yang membuat hidupku selalu ada di masa lalu. Bagi Ibu potret itu adalah harapan.

"Dia masih keluarga, mungkin Ia akan pulang," ibu selalu memelihara harapan bahwa Ayah akan pulang dalam potret itu.

Kini tiga tahun kemudian, Ayah tidak pulang. Rumah ini bukan lagi rumahnya. Perempuan entah siapa itu telah menjadi rumahnya.

Dengan tangannya sendiri Ibu menurunkan potret itu dan memelukku. Aku dan Ibu bersama sudah cukup


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

03 Mei 2014

Kidung

ada masa ketika ragu adalah tamu
ia datang tanpa tahu rindu pada kamu sedang lalu
hingga tak mau enyah
ia berkumpul dengan resah

ada masa ketika kamu merangkul lara
hingga ia larut dalam petang yang jingga

itu ketika mendung tak lagi kelabu


02 Mei 2014

Ngeceng kiri kanan

Berasa masih pake putih abu-abu yah judulnya. Diantara himpitan integral dan gaya sentripetal, serta tekanan untuk lulus UAN, tentu saja kegiatan ini adalah penyejuk. Kantin bukan cuma tempat untuk berburu batagor, tapi juga berburu yang ngantri batagor. Kegiatan liat yang ganteng ini terus berlanjut sampe saya kuliah. Kok masih?karena integral dan gaya sentripetal masih juga menghimpit. Tapi kadang-kadang emang yang ganteng ini munculnya tiba-tiba ya.Beliau lewat gitu aja dan saya cuma bisa melongo dan berharap kapan-kapan bertemu lagi. Iseng-iseng berhadiah lah, ngeliat sukur, gak ngeliat ya udah ga papa.

Eh, tapi akibat pertemuan yang semakin sering, para perempuan di geng saya jadi punya si ganteng favorit. Kegiatan ngeceng yang tadinya siapa ganteng saya pantengin, jadi akuh cuma nunggu si gantengku (udah ngaku-ngaku jadi yang punya). Kemudian si ganteng masing-masing jadi punya julukan biar bisa ngomongin dengan enak tanpa ketauan, dalam kasus saya : Adidos, Moreno, dan Kakak Benda Aneh. Hehehe....
Dan keberpihakan dan preferensi ini berkembang menjadi rasa ingin memiliki dan memunculkan rasa investigatif yang tinggi. Kami mulai mencari tahu status, mantan, hobi, kegiatan, dan lain sebagainya. Taulah, kegiatan yang sekiranya mempersempit jarak diantara kami dan kecengan.Tak lupa berharap dan berdoa mereka tiba-tiba nembak kami. Gak ada kejadian itu tembak-tembakan......

Saya akhirnya jadian sama kecengan yang lain

Jadi fase ngeceng ini sebenernya adalah jalan menuju fase pacaran. Terus kalo udah pacaran atau nikah, emang harus berhenti ngeceng?

Tentu saja tidak.

Saya ngerti, ada orang-orang yang terlahir dengan fitur-fitur yang menarik perhatian, seperti wajah tampan rupawan, kaki jenjang semampai, senyum manis memikat, dan ehm...buah dada bervolume maksimal. Ya kalo perempuan kaya Jupe lewat masa kita ga terus ngeliatin? Saya ngerti mata dan kepala kita sering kali secara refleks mengikuti arah orang-orang berfitur menarik.

Dalam kasus lain, terlalu lama bersama dalam komunitas yang isinya tidak berubah dan berkegiatan dengan intens menyebabkan kita memiliki lawan jenis favorit. Kita sering kali menilai dan membandingkan satu orang dengan yang lain. Karena perempuan senang sekali bergunjing, tentu saja penilaian dan pembandingan lelaki favorit  masuk dalam bahan gunjingan. Kami, perempuan akan membandingkan lelaki mana yang tampan, yang baik, yang tampan tapi rese, yang baik tapi gak tampan, yang tampan dan baik, dan sebagainya. Kemudian kami berandai-andai, kalau harus milih mau pilih yang mana. Berandai-andai saja ya, ada pacar sama suami yang masih nunggu. Nah, ini bentuk ngeceng yang tidak berlanjut menjadi rasa memiliki. Boleh dong?

Dan, tentu saja ada kecengan di dunia maya, idola kita. Lee Min Ho misalnya, yang walaupun menurut saya drama terakhirnya kurang greget tetep saya ikutin sampai tamat semata-mata untuk ngeliat Lee Min Ho yang ganteng. Atau ketika tangan saya dengan sadar ngetik Eun Ji Won di search You tube. Itu semata-mata untuk ngeliat doi yang menurut saya ganteng.Ngeceng bentuk ini tergantung mood sih, kebetulan sekarang lagi terserang demam korean wave, jadi bentuk kecengannya pria korea. Dulu sih seringnya ngeliatin foto Valentino Rossi sama Eminem. Boleh dong?


Kemudian hari ini saya tiba-tiba tidak mengerti dengan kegiatan ngeceng lain. Baba baru pulang dari hutan nyari kodok, dan waktu ditanya kalo lagi istirahat ngapain dia jawab ikut ngecengin perempuan sama yang lain. Idih, saya sebel jadi pengen peluk  jitak. Terus abis saya tatap dengan tatapan setajam silet dia melakukan pembelaan bahwa dia cuma ikutan ketawa-ketawa aja. Kalo dia ketawa lah yang lain ngapain? Katanya ya cari-cari mana yang punya fitur menarik, terus kasih kode ke yang lain. Terus abis itu diberi penilaian mana yang cantik, mana yang punya proporsi sempurna. Terus kalo bisa difoto dan disimpan (fotonya bukan perempuannya).

Lah, ini kan mirip yah sama kegiatan ngeceng saya, mencari, menilai, dan kadang-kadang menyimpan foto idola. Dalam kasus saya, saya biarkan internet menyimpan foto dan vidio yang saya perlukan sewaktu-waktu. Itu kan kegiatan ngeceng yang bukan diteruskan untuk membina hubungan, cuma iseng-iseng berhadiah.Boleh dong?

Tapi kok ya saya kesel.


Baba : "Kalau akuh nyimpen foto perempuan di laptop gimana?"

Neng Icha : "kalo alasannya logis akuh gak akan marah"

Baba : "buat kenang-kenangan"

Neng Icha : "Kamu mengenang kegiatan apa harus nyimpen foto perempuan?"