Karena dapet tema dari nulis buku.com buat flash fiction (old and new, semangat baru), jadi dibuatlah cerita ini. Sayang udah telat buat ikut kontesnya, jadi dipasang di sini ajaaaaa.....
Aku sudah mengutuk dari pertama kali aku mengenal kata-kata itu. Tanah telah hapal rasa asin air mataku yang menggenanginya. Aku khatam menyalahkan semua yang ada di dekatku : Ibu, Bapak, Nenek, Kakek, juga Tuhan. Lalu apakah aku bahagia?tidak pernah. Tidak pernah sekelebat pun bahagia sudi mampir di hatiku.
Kupandangi refleksi diri pada cermin di hadapanku. Kuperhatikan setiap gurat dan lekuk pada wajahku. Mulut kotor yang tak hentinya memaki dunia, mata dengan api amarah yang tak pernah padam, hidung yang selalu mengendus rasa kecewa, telinga yang tak pernah istirahat digetarkan oleh cemooh. Aku benci semua.
"sudah siap?" tanya seseorang membuyarkan lamunanku.
"saya sudah siap sejak saya melihat dunia terkutuk ini, " jawabku dengan tidak sabar.
"Baik, kalau begitu saya akan mulai menggambar untuk operasi wajah Anda."
Selamat tinggal wajah jelek pembawa derita. Selamat datang wajah rupawan pembawa iri dengki. Hihihihi....
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
02 Januari 2014
21 Desember 2013
Alam Raya #1
Raya menggosok hidungnya.Angin pagi telah bolak-balik menggelitik hidungnya. Namun ia hanya berdiri menghadap Gunung Gede yang sama-sama diam tak tergoyangkan angin. Pakaiannya sama sekali tidak mirip dengan pendaki gunung. Raya hanya memakai jeans dan kaus tangan pendek, kakinya pun hanya berbalut sepatu kanvas usang.
Pundak Raya ditepuk, pandangan Raya kini beralih pada lelaki dengan pakaian hitam-hitam yang menepuknya.Sama dengan Raya lelaki ini hanya memakai jeans hitam, kaos hitam, dan sendal gunung hitam.
"Ayo jalan. Jaket kamu kemana?" tanya lelaki itu.
"Gak kepikiran bawa," jawab Raya. "Jaket kamu?"
"Kalau udah jalan juga panas. Lagian kita gak akan ke puncak, cuma same curug Cibeureum aja.Udah pernah tracking ke gunung?"
Raya menggeleng, "belum, ini pertama kali."
Si lelaki hanya nyengir sambil menunjukan jari kelingking, telunjuk, dan jempol membentuk simbol metal. Entah mengejek, memuji, atau menyemangati Raya. Raya hanya merasa dingin karena angin masih bertiup menggelitikinya. Selebihnya ia merasa hampa.
Gunung Gede hanyalah tempat acak untuk Raya. Ia hanya butuh untuk pergi. Ia hanya butuh untuk tidak ada di rumah. Jika ada astronot yang mengajaknya ke bulan, tanpa pikir dua kali Ia akan pergi ke Bulan. Ia ke Gunung Gede karena Alam, si lelaki hitam-hitam, yang mengajaknya untuk ikut ke sini. Gunung Gede bukan rumah, maka Raya pergi.
Rombongan Raya dan Alam sampai di Gerbang Gunung Gede. Panitia acara menjelaskan teknis acara dan membagikan kantong plastik. Raya baru tahu ini bukan jalan-jalan santai. Ketika telinganya mendengar Gunung Gede Ia langsung mengiyakan. Sisa penjelasan Alam lain kabur entah kemana.
"Aku baru tahu kalau gunung perlu dibersihin segala, " Raya bergumam.
"Sebenernya kalau pendaki gak pada nakal, kita gak perlu jongkok-jongkok gini mungutin bungkus rokok sama mie instan, " Alam berusaha memberikan penjelasan.
"Kirain di tanah gunung cuma ada daun kering, taunya ada bungkus indomie. Manusia emang egois. Dan kamu Lam, sama temen-temen kamu, mau-maunya jongkok sepanjang jalan cuma buat mungutin ginian. Besok juga orang-orang pada nyampah lagi," Raya mengomel tidak habis pikir.
"Hehehe. Aku kayak orang gila ya? Nanti juga kamu ngerti kenapa sekarang aku mau jongkok sepanjang jalan, " Alam menjawab enteng, diikuti cengiran dan jari yang membentuk simbol metal.
Ini dunia baru untuk Raya. Orang macam apa yang mau bersusah-susah membersihkan kotoran orang lain. Selama hidupnya, Raya telah merasa diperlakukan curang. dikotori. Tapi tidak ada yang mau ikut berkubang di kotorannya itu.
"Ray, liat ada bunga!" Alam menunjuk bunga cantik.
"Cantik" Raya menjawab sambil lalu.
"Cantik-cantik gitu dia termasuk sampah loh di sini. Ini asalnya dari biji konyal yang dilepeh sama pengunjung. Masalahnya konyal bukan tumbuhan asli sini. BIsa-bisa tumbuhan asli pada mati gara-gara harus bersaing sama konyal," Alam menjelaskan dengan antusias.
"Aku ngerti, banyak orang yang cantik tapi sampah," bisik Raya.
"Ei....termasuk kamu?" tanya Alam lengkap dengan cengiran khasnya.
"Ternyata kamu bener, kalau udah jalan jadi panas, " Raya tidak menjawab pertanyaan iseng Alam. Ia berlalu meninggalkan Alam, memungut bungkus rokok dan memasukannya ke kantung.
Setelah dua jam berjalan sambil sesekali berjongkok rombongan tukang bersih-bersih itu sampai di Curug Cibeureum, pemberhentian terakhir mereka.
"Raya, kenalin, namanya Cibeureum. Cibeureum, kenalin, ini Raya, " Alam memperkenalkan Raya layaknya pada teman lama. Raya mengangkat tangan kanannya dan mengangguk, mengikuti permainan Alam.
Raya dan Alam duduk di bebatuan sekitar air terjun sambil melepas lelah.
"Kamu kenapa mau ikut ke sini Ray?Padahal kamu gak setuju konsep membersihkan kotoran orang lain?" tanya Alam.
"Bapakku meninggal," jawab Raya dingin.
"Lho?Kapan?Tadi?Kamu baru dapet kabar?Mau pulang sekarang?Ayo!" Alam bertanya dengan cepat kemudian segera berdiri.
Raya menatap air terjun dan menjawab, "justru karena Bapak meninggal makanya aku ikut ke sini."
Ada keheningan lama diantara mereka. Hanya terdenger deru Cibeureum dan obrolan kelompok tukang bersih-bersih.
"Bapak sudah ada yang ngurus. Istri dan anak-anaknya yang lain sudah 10 tahun ngurus Bapak, mereka sudah biasa. Aku tidak biasa ngurus Bapak. Bapak juga tidak biasa ada aku, " Raya tiba-tiba bercerita. Alam kembali duduk di samping Raya.
"Kamu setidaknya berdoalah untuk Bapak, " Alam memberi saran.
"Sudah. Doa untuk orang tua yang diajarkan oleh guru TPA. Supaya Allah mengampuni dan membalas apa yang telah dilakukan Bapak sama aku, Itu sudah paling baik yang bisa aku lakukan. Aku bisa apa lagi?"
Rombongan tukang bersih-bersih sudah bersiap-siap untuk turun kembali ke Cibodas. Namun Raya masih menatap Cibeureum.
"Tipayun we, Kang. Engke abdi nyusul!" teriak Raya pada ketua rombongan yang disambut dengan paduan suara "aaadeuuuuuh" yang panjang dari semua rombongan.
"Aku juga tidak mau ada di rumah Ray, " tiba-tiba Alam berbagi cerita. "Ini rumahku Ray, makanya aku harus bersih-bersih supaya tetap nyaman ada di rumah. Dan kamu boleh kapan saja datang ke rumahku ini."
Hening kembali hadir diantara keduanya. Kenapa tidak ada dalam kamus mereka saat ini. Keduanya tak memerlukan alasan masing-masing untuk saling menemani. Diantara deru Cibeureum hadir isak Raya yang sedari tadi ditahannya. Alam terdiam, menikmati rumahnya yang kini tak lagi dihuninya sendirian.
Pundak Raya ditepuk, pandangan Raya kini beralih pada lelaki dengan pakaian hitam-hitam yang menepuknya.Sama dengan Raya lelaki ini hanya memakai jeans hitam, kaos hitam, dan sendal gunung hitam.
"Ayo jalan. Jaket kamu kemana?" tanya lelaki itu.
"Gak kepikiran bawa," jawab Raya. "Jaket kamu?"
"Kalau udah jalan juga panas. Lagian kita gak akan ke puncak, cuma same curug Cibeureum aja.Udah pernah tracking ke gunung?"
Raya menggeleng, "belum, ini pertama kali."
Si lelaki hanya nyengir sambil menunjukan jari kelingking, telunjuk, dan jempol membentuk simbol metal. Entah mengejek, memuji, atau menyemangati Raya. Raya hanya merasa dingin karena angin masih bertiup menggelitikinya. Selebihnya ia merasa hampa.
Gunung Gede hanyalah tempat acak untuk Raya. Ia hanya butuh untuk pergi. Ia hanya butuh untuk tidak ada di rumah. Jika ada astronot yang mengajaknya ke bulan, tanpa pikir dua kali Ia akan pergi ke Bulan. Ia ke Gunung Gede karena Alam, si lelaki hitam-hitam, yang mengajaknya untuk ikut ke sini. Gunung Gede bukan rumah, maka Raya pergi.
Rombongan Raya dan Alam sampai di Gerbang Gunung Gede. Panitia acara menjelaskan teknis acara dan membagikan kantong plastik. Raya baru tahu ini bukan jalan-jalan santai. Ketika telinganya mendengar Gunung Gede Ia langsung mengiyakan. Sisa penjelasan Alam lain kabur entah kemana.
"Aku baru tahu kalau gunung perlu dibersihin segala, " Raya bergumam.
"Sebenernya kalau pendaki gak pada nakal, kita gak perlu jongkok-jongkok gini mungutin bungkus rokok sama mie instan, " Alam berusaha memberikan penjelasan.
"Kirain di tanah gunung cuma ada daun kering, taunya ada bungkus indomie. Manusia emang egois. Dan kamu Lam, sama temen-temen kamu, mau-maunya jongkok sepanjang jalan cuma buat mungutin ginian. Besok juga orang-orang pada nyampah lagi," Raya mengomel tidak habis pikir.
"Hehehe. Aku kayak orang gila ya? Nanti juga kamu ngerti kenapa sekarang aku mau jongkok sepanjang jalan, " Alam menjawab enteng, diikuti cengiran dan jari yang membentuk simbol metal.
Ini dunia baru untuk Raya. Orang macam apa yang mau bersusah-susah membersihkan kotoran orang lain. Selama hidupnya, Raya telah merasa diperlakukan curang. dikotori. Tapi tidak ada yang mau ikut berkubang di kotorannya itu.
"Ray, liat ada bunga!" Alam menunjuk bunga cantik.
"Cantik" Raya menjawab sambil lalu.
"Cantik-cantik gitu dia termasuk sampah loh di sini. Ini asalnya dari biji konyal yang dilepeh sama pengunjung. Masalahnya konyal bukan tumbuhan asli sini. BIsa-bisa tumbuhan asli pada mati gara-gara harus bersaing sama konyal," Alam menjelaskan dengan antusias.
"Aku ngerti, banyak orang yang cantik tapi sampah," bisik Raya.
"Ei....termasuk kamu?" tanya Alam lengkap dengan cengiran khasnya.
"Ternyata kamu bener, kalau udah jalan jadi panas, " Raya tidak menjawab pertanyaan iseng Alam. Ia berlalu meninggalkan Alam, memungut bungkus rokok dan memasukannya ke kantung.
Setelah dua jam berjalan sambil sesekali berjongkok rombongan tukang bersih-bersih itu sampai di Curug Cibeureum, pemberhentian terakhir mereka.
"Raya, kenalin, namanya Cibeureum. Cibeureum, kenalin, ini Raya, " Alam memperkenalkan Raya layaknya pada teman lama. Raya mengangkat tangan kanannya dan mengangguk, mengikuti permainan Alam.
Raya dan Alam duduk di bebatuan sekitar air terjun sambil melepas lelah.
"Kamu kenapa mau ikut ke sini Ray?Padahal kamu gak setuju konsep membersihkan kotoran orang lain?" tanya Alam.
"Bapakku meninggal," jawab Raya dingin.
"Lho?Kapan?Tadi?Kamu baru dapet kabar?Mau pulang sekarang?Ayo!" Alam bertanya dengan cepat kemudian segera berdiri.
Raya menatap air terjun dan menjawab, "justru karena Bapak meninggal makanya aku ikut ke sini."
Ada keheningan lama diantara mereka. Hanya terdenger deru Cibeureum dan obrolan kelompok tukang bersih-bersih.
"Bapak sudah ada yang ngurus. Istri dan anak-anaknya yang lain sudah 10 tahun ngurus Bapak, mereka sudah biasa. Aku tidak biasa ngurus Bapak. Bapak juga tidak biasa ada aku, " Raya tiba-tiba bercerita. Alam kembali duduk di samping Raya.
"Kamu setidaknya berdoalah untuk Bapak, " Alam memberi saran.
"Sudah. Doa untuk orang tua yang diajarkan oleh guru TPA. Supaya Allah mengampuni dan membalas apa yang telah dilakukan Bapak sama aku, Itu sudah paling baik yang bisa aku lakukan. Aku bisa apa lagi?"
Rombongan tukang bersih-bersih sudah bersiap-siap untuk turun kembali ke Cibodas. Namun Raya masih menatap Cibeureum.
"Tipayun we, Kang. Engke abdi nyusul!" teriak Raya pada ketua rombongan yang disambut dengan paduan suara "aaadeuuuuuh" yang panjang dari semua rombongan.
"Aku juga tidak mau ada di rumah Ray, " tiba-tiba Alam berbagi cerita. "Ini rumahku Ray, makanya aku harus bersih-bersih supaya tetap nyaman ada di rumah. Dan kamu boleh kapan saja datang ke rumahku ini."
Hening kembali hadir diantara keduanya. Kenapa tidak ada dalam kamus mereka saat ini. Keduanya tak memerlukan alasan masing-masing untuk saling menemani. Diantara deru Cibeureum hadir isak Raya yang sedari tadi ditahannya. Alam terdiam, menikmati rumahnya yang kini tak lagi dihuninya sendirian.
15 Juli 2013
Rumah Raya
Raya memandangi kulit pucatnya yang tak
pernah sempat dibelai matahari. Ia merasa hidup di benua lain, jauh dari
khatulistiwa. Bukankah khatulistiwa identik dengan matahari? Seharusnya
kulitnya tidak sepucat ini. Raya teringat kulitnya dulu dimanja matahari. Hidung
yang terbakar adalah kebanggan. Ia pernah dibakar matahari puncak Gunung Gede juga pantai
Alas Purwo. Tiba-tiba, dibalik kulit pucat dan keringnya, di tengah
ruangan berpendingin, Raya merasakan hangat.
Cinta Raya pada alam sebesar cintanya pada
Alam, lelaki yang mengikat hatinya sejak 8 tahun lalu. Alam, seperti namanya ,
yang mengajari Raya sejuknya hutan, jernihnya danau, merdunya celoteh tonggeret,
megahnya gunung, dan teduhnya deru ombak. Tidak sulit hingga Raya mencintai
keduanya. Dan Raya adalah satu-satunya yang mengerti kecanduan Alam akan alam.
Raya tersadar dari lamunan tentang alam dan
Alam ketika muridnya menghamiprinya dan memintanya membantu mengerjakan PR.
Sudah jam 8 malam namun masih ada murid SMA yang berkeliaran di tempat
bimbingan belajar. Raya melayani konsultasi dan mengajar kelas bimbel dari jam
10 pagi hingga jam 8. Namun jika ada muridnya merengek meminta ditemani
mengerjakan PR, Raya tak dapat menolak. Alaupun ini bukan pekerjaan impiannya, Raya mempunyai kesenangan tersendiri ketika dapat membantu anak-anak.
“Memangnya kenapa tidak dikerjakan di
rumah?betah amat di sini?” Tanya Raya setelah selesai membantu mengerjakan PR.
“Di rumah ga ada siapa-siapa Bu. Mending di
sini, masih rame,” jawab muridnya sambil berpamitan pulang.
Rumah. Ketika bertemu Alam, Raya mengira ia
telah menemukan rumah. Namun, Alam bukanlah rumah dan Ia tidak pernah mempunyai
rumah. Selepas kuliah Alam hinggap kesana-kemari menjadi relawan di berbagai
NGO. Ia terus berkeliling Indonesia, seolah-olah
tidak bisa bernapas jika terus-terusn tinggal di kota kelahirannya. Dan
ketika akhirnya dia kehabisan uang, bukannya mencari kerja, ia mencari beasiswa supaya bisa menjelajah
di luar negeri. Dengan pengalamani pekerjaannya yang berlimpah tidak sulit bagi
Alam untuk akhirnya pergi ke Belgia dengan beasiswa penuh.
Hubungan Raya dan Alam bukannya tidak
serius. Alam sempat beberapa kali menyatakan keinginanya untuk menikahi Raya.
Tapi kapan itu akan terjadi?Entahlah. Setiap kali ditanya kapan Alam hanya akan
menjawab “Nanti, setelah aku pulang." Raya percaya suatu hari Alam akan pulang. Walaupun Alam tidak menetap setelah selesai keliling Indonesia. Walaupun Alam tidak pulang ketika Gelar master sudah diraihnya. Masih ingin keliling Eropa katanya, mumpung profesornya membutuhkan tenaga peneliti.
Raya bukan perempuan biasa-biasa saja. Jika ia ingin mendapat beasiswa Raya dengan mudah dapat memenuhi syaratmya. Namun, ia merasa perlu membantu orang tuanya membiayai ongkos rumah tangga. Keluarga Raya hidup pas-pasan, tambahan uang dari Raya akan sangat meringankan beban orangtuanya. Ditambah Alam berjanji akan pulang. Bagaimana jika Alam memutuskan untuk pulang Raya tidak ada di "rumah"? Raya terjebak di sini, di ruangan bimbel ber AC yang membuatnya jauh dari matahari yang dicintainya.
Pekerjaannya sudah selesai, Raya menggeliat di depan laptopnya. Jari-jarinya mengetik dengan cepat "Facebook" pada kolom alamat pada browser. Ada 1 notifikasi. Raya menekannya dan menemukan "Alam Pratama post on your timeline". Raya dengan cepat mengklik notifikasi dengan debaran jantung. Matanya melebar melihat tulisan "Raya, Im coming home!!!"
Raya tersenyum, Raya percaya Alam akan pulang. Namun lama-lama senyum itu pudar, sedikit demi sedikit keraguan Raya menumpuk. Apakah benar ia adalah rumah Alam?Bukankah Alam tidak pernah mau ada di rumah? Maukan Ia menunggu Alam lagi ketika Alam kembali pergi? Tapi ia sudah menunggu......8 kali mengitari matahari.
09 Januari 2013
Planet dan Matahari
Menatapmu dalam malam diantara
kembang yang dipelihara embun pagi adalah sempurna. Harumnya semerbak, menempel
dan menulari kebahagian pada tiap jiwa. Tak akan aku peduli pada maut yang bisa
menyapa kapan saja, mencerabut hati yang berdenyut kalut.
Kita telah membayangkan ini sejak
lama, sejak kau menjadi seperti satelit, mengelilingi hidupku sehari semalam.
Kamu mengoreksiku, kamu ingat? Katamu kamu bukan satelit, kamu planet, dan
akulah matahari yang memberimu energi kehidupan. Namun matahari akan kehabisan
energi dan semua planet akan kiamat.
Butuh delapan kali mengelilingi
matahari untuk kita sampai di sini. Tempat indah ini, sesuai dengan yang kita
bangun dalam mimpi. Parasmu, senyummu, gemulai tanganmu, ronce melati yang
menggantung pada sanggulmu, semua seperti yang aku bayangkan, kecuali wana
kebaya yang membalut tubuhmu. Mungkin hijau adalah warna kesukaan suamimu, yang
wajahnya sedari tadi kau pandang mesra.
Aku tahu matahari, mataharimu,
suatu saat akan kehabisan energi. Yang aku tak tahu, planet tidak begitu saja
kiamat setelah matahari kehabisan energi. Ia mencari matahari baru.
28 Mei 2011
Keluarga Ridho
Ridho mungil duduk di depan
kelas, asyik dengan crayon dan kertas yang diberikan Bu Guru. Beberapa anak
kelas satu yang lain mengacuhkan crayon dan kertasnya, mereka malah menangis
mencari ibunya. Ridho sudah lama tidak pernah menangis, sejak Mama sering
meninggalkannya di rumah tetangga, sejak Bapak pergi tanpa lagi pulang.
Hari ini Ridho tidak mau
ditinggal di rumah tetangganya yang selalu mengomel, menyalahkan Mama karena
kawin dengan Bapak. Hari ini Ridho ingin main saja di rumah karib barunya,
hingga Mama menjemput.
Ridho senang bermain di rumah
mewah dengan mainan melimpah. Disambut pula ia oleh Tante dan Kakak baik hati. Sampai
Ridho bingung melihat foto karibnya yang digendong lelaki yang sedang tertawa
bahagia.
“Itu siapa?”Ridho bertanya pada
karibnya.
“Itu aku dengan Ayah,” jawab sang
karib.
“kok Bapak kita sama?”
Langganan:
Komentar (Atom)